Aku begitu mencintainya…
Sore itu saya didera kerinduan yang amat sangat, pada seseorang… pada sesosok jiwa yang amat dekat dengan aku. Memang…dia bukanlah orang yang baru. Saat masih SMA ketika aku selalu bersamanya, saya belum begitu memperdulikannya belum begitu memperhatikannya seperti saat aku awal-awal kuliah di Teknik UNS yang merubah segalanya. Kini kami sudah lulus…dan sudah lama aku tidak menemuninya. Hanya sekedar sms dan telfon saja ternyata tak merubah apapun.
Saya bulatkan tekat untuk menemuinya pagi-pagi benar esok hari. Saya persiapkan segalanya untuk menuimanya esok hari. Luar biasa bahkan jauh sebelum subuh kudapati saya sudah terbangun, karena jujur saya tak dapat nyenyak tidur malam itu. Kupastikan diri ini bersih dan wangi. Aku siapkan mental dan keberanian untuk menemuinya… karena perjalanan akan amat panjang, tidak hanya antar fakultas, antar kota dalam propinsi tapi lebih jauh dari itu semua, tapi sesungguhnya ia dekat sedekat hatiku dan jantungku bahkan lebih dekat lagi. Saya sudah tidak peduli dengan siapapun, apapun yang dikatakan ikhwan bahkan akhwat manapun. Karena saya begitu yakin inilah yang kelak yang akan mendekatkanku pada Rabbku.
Setelah aku gusar menunggu mengapa ia tidak juga keluar, aku coba lagi ketuk pintunya…dengan hati yang entah bagaimana rasanya. Akhirnya ia kini dihadapanku…Aku mengucap salam dan iapun membalasnya “ia begitu manis”. Aku mencoba untuk senyum simetris, 2 cm kanan 2 cm kiri. Lalu aku bertanya padanya “Bagaimana kabarmu?”. Dia tidak mengucapkan sepatahpun,diam sejenak dan hening… Kutatap dia,Astaghfirulloh…tak terasa setetes demi setetes air matanya mengalir membasahi pipinya. Dia tak sanggup berdiri dan duduk bersimpuh, lantas akupun demikian adanya. <!– D(["mb","\u003c/span\>\u003c/font\>\u003c/p\>\n\n\u003cp\>\u003cfont size\u003d\"4\" color\u003d\"blue\" face\u003d\"Times New Roman\"\>\u003cspan style\u003d\"font-size:12.0pt;color:blue\"\>Kutanya sekali lagi “Kaifa\nhaluq”… agaknya kali ini dia marah besar tapi tidak mengucap\nsepatahpun, hanya airmatanya yang terus mengalir deras. Lalu kemudian… “Antum\njahat, betapa Antum dulu sering memperhatikanku, betapa Antum dulu sering\nmengunjungiku, betapa dulu Antum mencintaiku sepenuh jiwa dan ragamu. Kenapa\nAntum sekarang seakan kurang peduli atau bahkan tidak peduli?”. Dia terus\nsaja meneteskan air matanya. Memang suaranya tidaklah tinggi dan keras tapi\ncukup dan sangat cukup telak memukul aku. Sungguh aku tidak ingin kehilangan\nia, sungguh aku tidak ingin dia tersiksa dan akupun demikian adanya. Karena aku\nbegitu mencintainya…\u003c/span\>\u003c/font\>\u003c/p\>\n\n\u003cp\>\u003cfont size\u003d\"4\" color\u003d\"blue\" face\u003d\"Times New Roman\"\>\u003cspan style\u003d\"font-size:12.0pt;color:blue\"\>Sama seperti tahun-tahun yang lalu ketika\nkami bertemu, aku senantiasa menanyakan “bagaimana ibadahmu belahan\njiwaku…?”. Kali ini ia diam sejenak, dengan badan bergetar ia\nberkata lirih “Bagaimana mungkin aku bisa shalat dengan khusuk kalau yang\nAntum pikirkan hanya kantormu, bagaimana aku bisa menikmati puasa sunnah ketika\nyang ada dalam hatimu hanya orang lain, bagaimana aku bisa qiyamullail dengan\nbaik ketika Antum ternyata sudah lelah untuk yang lain?”.\u003c/span\>\u003c/font\>\u003c/p\>\n\n\u003cp\>\u003cfont size\u003d\"4\" color\u003d\"blue\" face\u003d\"Times New Roman\"\>\u003cspan style\u003d\"font-size:12.0pt;color:blue\"\>Masih dengan derai air matanya yang tak\nsangguh aku tatap. “Apakah pekerjaan Antum sebegitu pentingnya sampai\nmelupakanku, apakah sedikit aktivitas dakwah antum itu sebagai alasan untuk\ntidak memperhatikan aku, lantas selama ini janji kita yang dulu…Antum\nkemanakan? Maka katakanlah, apakah kita akan begini seterusnya? Ataukah kita\nakan bersama-sama lagi untuk meraih kebahagiaan abadi yang kita impikan\nitu?”\u003c/span\>\u003c/font\>\u003c/p\>\n\n\u003cp\>\u003cfont size\u003d\"4\" color\u003d\"blue\" face\u003d\"Times New Roman\"\>\u003cspan style\u003d\"font-size:14.0pt;color:blue\"\>Astaghfirullohaladzim…Aku sangat\nmerasa bersalah. Aku bacakan sebuah sastra terindah untuknya…sebagai\nhadiah atas sesal dan syukurku.",1] ); //–>
Kutanya sekali lagi “Kaifa haluq”… agaknya kali ini dia marah besar tapi tidak mengucap sepatahpun, hanya airmatanya yang terus mengalir deras. Lalu kemudian… “Antum jahat, betapa Antum dulu sering memperhatikanku, betapa Antum dulu sering mengunjungiku, betapa dulu Antum mencintaiku sepenuh jiwa dan ragamu. Kenapa Antum sekarang seakan kurang peduli atau bahkan tidak peduli?”. Dia terus saja meneteskan air matanya. Memang suaranya tidaklah tinggi dan keras tapi cukup dan sangat cukup telak memukul aku. Sungguh aku tidak ingin kehilangan ia, sungguh aku tidak ingin dia tersiksa dan akupun demikian adanya. Karena aku begitu mencintainya…
Sama seperti tahun-tahun yang lalu ketika kami bertemu, aku senantiasa menanyakan “bagaimana ibadahmu belahan jiwaku…?”. Kali ini ia diam sejenak, dengan badan bergetar ia berkata lirih “Bagaimana mungkin aku bisa shalat dengan khusuk kalau yang Antum pikirkan hanya kantormu, bagaimana aku bisa menikmati puasa sunnah ketika yang ada dalam hatimu hanya orang lain, bagaimana aku bisa qiyamullail dengan baik ketika Antum ternyata sudah lelah untuk yang lain?”.
Masih dengan derai air matanya yang tak sangguh aku tatap. “Apakah pekerjaan Antum sebegitu pentingnya sampai melupakanku, apakah sedikit aktivitas dakwah antum itu sebagai alasan untuk tidak memperhatikan aku, lantas selama ini janji kita yang dulu…Antum kemanakan? Maka katakanlah, apakah kita akan begini seterusnya? Ataukah kita akan bersama-sama lagi untuk meraih kebahagiaan abadi yang kita impikan itu?”
Astaghfirullohaladzim…Aku sangat merasa bersalah. Aku bacakan sebuah sastra terindah untuknya…sebagai hadiah atas sesal dan syukurku.
Demi matahari yang bersinar dipagi hari…
Demi bulan apabila mengiringinya…
Demi siang apabila menampakkannya…
Demi malam apabila menutupinya…
Demi langit beserta binaannya…
Demi bumi beserta penghamparannya…
Demi jiwa beserta penyempurnaannya…
Maka Dia mengilhamkan sukma kejahatan dan ketaqwaan…
Sungguh beruntung orang yang menyucikannya…
Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya…
Sastra terindah dari Yang Maha Indah. Fa’al hamahaa fujuurohaa wa taqwaahaa, kod aflahaman dzakkahaa, wakod khobaman dassahaa.
Maka sangat pantas jika aku melupakan Yang Maha Indah, mengotori jiwa… lantas dia begitu tersiksa. Karena sesungguhnya dari sanalah ia berasal dan kesana pulalah ia akan kembali. Ketika aku ingin melihat keindahannya maka sesungguhnya…seharusnyalah aku mendekatkan diri pada Yang Maha Indah. Ketika aku ingin melihat dia diliputi rasa cinta, maka seharusnya aku harus lebih mendekatkan diri kepada Yang Punya Cinta, Yang Maha Welas Asih. Ketika aku ingin melihat kedamaian menyelimuti jiwanya, harusnya aku semakin dekat dengan Yang Maha Damai. Maafkan kami Ya Rabb…
Ya… aku sekarang sangat mengerti dan sungguh-sungguh sangat mengerti. Maka aku kembali meneguhkan janji kami. Aku pegang erat dia…”Wahai belahan jiwaku, aku mengakui bahwa aku telah membuat banyak kesalahan padamu, maka maafkanlah aku. Aku menyadari bahwa engkau membutuhkan kehadiranku, maka aku tidak akan pernah berpisah darimu. Aku tahu terkadang diri ini fujur, maka marilah kita saling mengingatkan. Aku menyadari bahwa diri ini terbatas, maka marilah kita mendekatkan diri pada Robbil alamin arrohmaanirrohiim dan mohon ampunan atas dosa-dosa yang telah kita perbuat.
Ya Alloh…ampunilah kami, jauhkanlah kami dari murkamu atas dosa dan maksiat kami. Masukkanlah kami termasuk hamba-mu yang engkau muliakan di dunia dan akhiratmu.
Buat seseorang…tetaplah engkau mencintaiku, karena aku begitu mencintaimu. Karena engkau adalah diriku sendiri. Astaghfirullohaladziim…
Surabaya, 18 Desember 2007
*/sis



















Posted by konyan on 4 November 2008 at 16:12
aslm wrwb, numpang lewat ya mas / mbak..