Ada sebuah lelucon lama. Tentang seorang yang kehilangan sesuatu di sebuah ruangan yang gelap. Setelah mencari beberapa lama tapi tidak ketemu juga, akhirnya teman orang yang kehilangan tadi berniat ikut membantu, tetapi ia langsung merasa keheranan karena ternyata selama itu orang yang kehilangan tersebut justru mencari di ruangan yang berbeda. Ketika ditanyakan padanya, dengan enteng orang yang kehilangan ini menjawab, “ Kalo nyarinya di ruangan yang tadi susah ketemunya, soalnya gelap. Nah kalo di sini kan lebih mudah karena lebih terang!”
Begitu ceritanya.
Saya tidak tahu apakah antum tertawa, cuma tersenyum atau malah bingung setelah membaca cerita di atas, tapi sejak awal saya memang tidak berniat melucu dengan cerita tadi.
Kadang-kadang, atau bisa jadi sering dalam hidup ini kita berusaha menyelesaikan masalah-masalah yang kita hadapi dengan tindakan yang tidak rasional. Seolah kita berfikiran ‘yang penting usaha’. Tidak peduli apakah usaha itu akan membuahkan hasil, atau justru menjadikan kita capek dalam kesia-siaan. Tidak peduli apakah usaha itu semakin mendekatkan kita pada tujuan, atau semakin membawa kita jauh melenceng dari jalan kesuksesan.
Mereka-mereka yang rajin ke dukun untuk minta pesugihan atau jodoh adalah salah satu contoh ekstrim dari apa yang saya maksud dalam paragraf sebelum ini. Hanya salah satu, dan itupun yang paling ekstrim menurut saya. Sesungguhnya ada sebuah contoh lain yang lebih dekat dengan keseharian kita, atau setidaknya saya.
Dulu pas masih kuliah saya merasa sangat tidak nyaman dengan jurusan yang saya ambil. Semakin lama bukan semakin tertarik tapi justru semakin muak. Karenanya, semangat belajar saya semakin menurun tiap harinya.
Tentu hal ini berimbas kepada nilai yang saya dapatkan. Dengan semangat selembek itu wajar jika kemudian nilai saya tidak kunjung meningkat bahkan cenderung menurun di tiap semester (kecuali semester pendek).
Sesungguhnya saya menyadari betul apa yang sebenarnya terjadi waktu itu. Tetapi alih-alih mencari jalan untuk meningkatkan ketertarikan saya pada jurusan saya itu, saya justru mencari kesibukan lain.
Kesibukan yang saya pilih memang tidak buruk. Waktu itu saya menenggelamkan diri dalam aktivitas dakwah kampus dan berbagai organisasi kemahasiswaan. Saya berpikiran aktivitas ini jauh lebih bermanfaat daripada kuliah yang tidak saya senangi itu, malah manfaatnya nggak cuma di dunia tapi insya Allah di akhirat juga. Saya tidak bangga untuk mengakui bahwa waktu itu sebagian dari diri saya tengah melarikan diri dari masalah yang tak mampu saya hadapi.
Saya tidak pernah menyalahkan dakwah dan tidak pula mengingkari banyaknya manfaat yang saya dapatkan dari aktivitas itu. Tetapi dalam hal permasalahan kuliah yang saya alami saat itu, menjadikan dakwah dan organisasi sebagai ajang pelarian tentu tidak bisa disebut sebagai prestasi. Memang betul, Allah akan menolong hamba-Nya yang menolong agama-Nya, tapi itupun harus disertai ikhtiar dan kemauan keras si hamba untuk keluar dari masalah.
Masalah yang terkadang ia ciptakan sendiri.
***
Saya tidak menuduh, tapi bisa jadi di antara antum ada yang mengalami apa yang pernah saya alami. Jika iya, maka saya sarankan untuk segera kembali ke ruangan gelap itu dan carilah lilin untuk dinyalakan di sana, ketimbang menikmati terangnya cahaya di ruangan lain yang tidak akan membawa solusi bagi masalah antum.
Untuk kasus saya, Allah memang pada akhirnya menurunkan pertolongan-Nya, berupa kesadaran bahwa segalanya tidak akan pernah baik-baik saja selama saya tidak pernah benar-benar berusaha memperbaikinya. Ketika saya mulai sadar dan serius kembali dalam perkuliahan (menyeimbangkan akademis dan dakwah), Allah kemudian mencurahkan berbagai kemudahan yang menghantarkan saya pada keadaan saya saat ini (mulai dari kemudahan judul skripsi, pembimbing yang motivatif, dan yang paling ajaib: perubahan kurikulum yang menguntungkan, he..he..).
‘Ala kulli hal, semua yang terjadi dalam hidup kita memang tidak perlu disesali tapi harus dievaluasi, untuk mendapatkan hasil yang lebih baik di masa datang.
Setuju?


















