Ada “sesuatu yang lain“ dikampus kita, fakultas teknik UNS

Oleh: Kyo Samurai

Beberapa waktu lalu, tepatnya hari rabu siang sehabis mampir dari sekretariat DEMA, saya melihat seorang Abang Tukang Tahu Sumedang enak aja jalan-jalan menjajakan jualannya. Dan “sesuatu yang lain“ itu terlihat jelas karena dengan polosnya si abang memakai sebuah rompi sebuah partai dakwah yang katanya lagi ngetrend dikalangan anak remaja seusia saya.
Entah kerjaan siapa, tetapi rompi yang terlihat masih baru dan sepertinya akan menyenangkan bagi orang yang melihatnya, memang terlihat begitu eye catching, apalagi di lingkungan kampus yang notabene harus steril dari tindakan politik praktis.

Akan tetapi saya mencoba melihat dari sudut pandang berbeda. Ketika melihat ada seorang tukang tahu dengan PeDenya memakai rompi tersebut, saya dapat menangkap dengan jelas bahwa beliau ingin mengingatkan kita bahwa diantara distorsi tentang penyimpangan arah dan tujuan partai-partai yang sekarang menjamur, bahwa masih ada secercah harapan akan perubahan kearah yang lebih baik.

Khusnuzhzhon saya mengatakan, sentuhan yang membuat si abang bangga menggunakan rompi tersebut memang bukanlah hasil instant dari proses penawaran serta tindakan persuasi “terselubung“ yang sudah menjadi “obralan rutin“ menjelang pesta demokrasi yang lima tahun sekali. Tetapi dari tangan-tangan tulus yang mencoba merealisasikan “khoirunnas ’anfa uhum linnas,“ jauh sebelum hingar-bingar pesta demokrasi ini memenuhi sudut-sudut kota dan kolom-kolom media massa. Dan tentu saja… kalo tidak seperti itu, memang benar bila tiba-tiba ada pertanyaan terlontar “apa bedanya kita dengan mereka?“

Mungkin terlalu naif jika di pesta demokrasi nanti si Abang mengharapkan akan muncul seorang pemimpin sepeka Umar bin Khathab, yang pada pada suatu malam memanggul sendiri sekantung makanan untuk ia serahkan kepada seorang ibu yang sedang memasak batu demi menenangkan anaknya yang kelaparan.
Terlalu berlebihan pula bila ia mengharapkan seorang pemimpin sekelas Khalid bin Walid yang dengan “legowo“ menerima keputusan Umar bin Khathab RA perihal pencopotan dirinya sebagai panglima besar islam yang sedang berada di puncak karier, “hanya“ karena Umar khawatir Kholid akan menjadi “jumawa“ dan tinggi hati.
Dan tentu saja ia mimpi kalo berkeinginan akan hadir pemimpin sekelas Umar bin Abdul Azis yang bertanya pada anaknya pada suatu malam, “tentang permasalahan apa engkau ingin berbicara denganku? Bila tentang keluarga kita, maka biar aku matikan dahulu lampu minyak ini, karena “terang“nya dibiayai oleh uang negara.“

Memang harapan si Abang menjadi tidak terlalu berlebihan bila selama ini beliau sering terlalu banyak melihat kita berlindung di balik “jubah“ religious kita yang dengan “serampangan“ membuat orang-orang seperti si Abang polos berpikiran… “Orang-orang seperti inilah yang setidaknya “mendekati.““

Sedikit resah menghampir dibenak ketika melihat gejala-gejala lunturnya militansi dan “tangan-tangan tulus“ yang semakin berkurang jumlah dan kualitasnya. Tidak salah memang bila kita menafsirkan tentang urgensi dakwah yang seharusnya berawal dari proses “penyelamatan“ dalam diri sendiri. Dan memang ada benarnya dengan pendapat yang mengatakan bahwa diri sendiri dan keluargalah (orang-orang terdekat) yang terlebih dahulu harus kita selamatkan. Toh, Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…(Q.S At-Tahriim:6)

Tetapi hal tersebut jadi tidak bijaksana bila kemudian kita “merasa nyaman“ dan lantas enggan “menoleh keluar“ dari permasalahan pribadi atau bahkan pernak-pernik kampus yang memang sudah “berat“ dan membuat kita takut untuk merobohkan “dinding“nya, sehingga tampak sebagai pembenaran atas semua ke-tidak pedulian yang mungkin menurut kita “tidak terencanakan“

Para pemimpin harapan kita sedang berjuang meng-counter para “pemikir-pemikir“ Nietsche yang mengatakan “Tuhan telah mati.“ Karena mereka (sekuler2) merasa benar dengan pendapatnya yang tergambar jelas pada fenomena akhir-akhir ini dimana Tuhan dibawa-bawa sebagai bagian dari pembodohan terhadap kaum tertindas dan komunitas susah demi sejumlah “suara“, jargon kekerasan, politik kotor atau korupsi. Walau kita semua mungkin sudah cukup dewasa untuk mengartikan, bahwa Tuhan yang dimaksud bukan Tuhan yang esensial, yang eksistensi-Nya memang tidak mungkin diganggu-gugat.

Dan hendaklah kita para mahasiswa (termasuk saya yg masih sibuk di lembaga) juga berusaha meredam “teriakan-teriakan“ masjid yang kesepian ditinggal jama’ahnya, pengamen dan anak jalanan yang merasa kehilangan “kakak-kakak“ kesayangannya, klub belajar anak-anak islami yang kekurangan tenaga pengajar atau bahkan para tetangga kos disekitar kita yang tidak kenal dengan para “pendatang“ yang kini menghuni “ruang“ disebelah rumahnya. Karena biar bagaimanapun juga mereka berhak merasakan “sentuhan hangat“ dan lembutnya “kasih sayang“ dari dakwah yang mulia ini. Jangan sampai “nilai beda“ yang dulu lekat dengan identitas dakwah ini luntur untuk selanjutnya hilang tak bersisa.

Setidaknya kita semua berharap si Abang Tukang Tahu tetap bangga dengan “rompi“nya dan mendoakan kita agar tetap “bersih dan peduli.“ Dan sudah pasti kita semua tidak menginginkan suatu saat dia mendengus kesal dan berkata “hmmmpfh…sama saja!“

2 Tanggapan to this post.

  1. Posted by arfiyanto on 4 Januari 2009 at 15:06

    subhanallah,ternayta partai da’wah ini telah diterima oleh banyak kalangan, bahkan “Abang Tukang Tahu Sumedang” pun juga. :)
    semoga tetap amanah & konsisten fisabilillah

    Balas

  2. he.. he… he…

    itu nama partai baru ya… kok saya nggak nemukan di daftar partai yang sekarang ikut pemilu?
    Yah kalo kaos, rompi, apalagi bundelan uang bergampar partai sih sudah banyak dik, mereka itu meskipun berbeda – beda tetap satu jua.
    tetap satu di bawah UU pemilu dan UU lain-lainnya
    tetap satu di bawah ideologi demokrasi pancasila
    tetap satu di bawah …..

    Balas

Tanggapi posting ini