Persoalan Jamaah dan Komitmen (Iltizam)

Sasaran besar yang wajib dicapai akan mustahil apabila hanya dilakukan secara fardhiyah (individual). Membutuhkan adanya jamaah yang mengatur dan mengorganisasikan seluruh potensi yang ada, menggariskan langkah-langkah perjuangan, mempersiapkan sarana dan fasilitas. Selain itu, kaidah ushul fiqh menyebutkan,”Suatu kewajiban jika tidak sempurna kewajiban itu kecuali dengannya, maka itu wajib”. Karena itu kita wajib berjamaah. sebagai upaya mewujudkan ahdaf (tujuan) Islam.

Jamaah tidak akan ada tanpa kepemimpinan (qiyadah). Tidak adanya karena tiada hak didengar dan ditaati para anggota jamaah. Sedangkan keteraturan anggota dalam jamaah, tidak akan terwujud tanpa ikatan dan komitmenyang wajib ditaati dan dilaksanakan.

Jamaah harus menjaga kemurniannya dengan beriltizam kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Dalam menggariskan pemahaman terhadap sasaran utama dakwah. 

Jamaah harus menjaga kemurniannya dengan beriltizam kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Dalam menggariskan pemahaman terhadap sasaran utama dakwah. komitmen anggota, peraturan, media operasional, maupun sarana dakwah yang mampu memperlancar pertumbuhan dan perluasan wilayah operasionalnya.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam jamaah yang menghimpun banyak potensi, dengan memperhatikan masalah-masalah yang mungkin timbul, diantaranya:

Pertama: Meremehkan Jamaah, meremehkan masalah jamaah dan amal jama’i (gerakan bersama) serta menganggap cukup amal fardhi (gerakan individual).

Banyak suara bertendensi anti jamaah dan kebersamaan datang dari akrtivis. Mereka lebih nyaman untuk bekerja secara individual. Entah dengan alasan yang seperti apa, misalnya ada kepentingan rekayasa musuh-musuh Allah, atau hanya ingin dirinya mendapatkan keselamatan karena stigma khalayak terkait jamaah dakwah.

Akan lebih mulia apabila kejayaan Islam dapat segera kita wujudkan bersama, jamaah menjadi lebih berkekuatan.

Kedua: Banyaknya Jamaah dan pemimpin, saat ini banyak jamaah yang kita kenal dengan masing-masing pemimpinnya (amir jamaah), hal ini melemahkan dan memecah potensi, pemudanya bingung mau bergabung dengan jamaah yang mana. Hendaklah pemuda mengenali jamaah yang memiliki kelengkapan sifat, antara lain:

  1. Perhatikan metode perjuangan dalam menegakkan Daulah Islam Internasional (Khilafah Islamiyah). Gerak langkahnya tidak membatasi pada beberapa segi ajaran Islam, Komitmen terhadap pemahaman yang benar dan menyeluruh dan murni tentang Islam. Terhindar dari penyimpangan, bid’ah, khurafat.
  2. Perhatikan gerakannya beriltizam penuh dengan metode dakwah Rasulullah SAW. dengan mempersiapkan kekuatan aqidah dan iman, kekuatan persatuan dan kesatuan, sebelum kekuatan senjata dan militer.
  3. Sasaran perjuangan tidak hanya terbatas pada sasaran lokal, tetapi totalitas sasaran Islam dalam rangka mempersiapkan fondasi Khilafah Islamiyah.

Ketiga: Gesekan dalam Jamaah, adanya perbedaan diantara anggota jamaah memungkinkan munculnya friksi atau gesekan, baik berupa individu, ide atau pola pikir. Banyak orang yang kemudian keluar serta mendirikan kelompok tandingan. Berupaya melakukan tekanan kepada pemimpin untuk komitmen terhadap pendapat tertentu, tetapi jika tidak berhasil ia mengancam mengundurkan diri. Janganlah menimbulkan perpecahan dalm hal ini.

Keempat: Bergantung pada Individu yang lebih Kuat, berjamaah karena figur terpandang, hanya ikut ketika ia ikut, kalau figurnya sudah uzur dan pensiun, ia juga ikut pensiun bahkan menghilang dari aktivitas jamaah. Akibatnya tidak mempunyai kemandirian dan efektifitas kerja dalan shaf jamaah.

Jamaah adalah perhimpunan (tajammu’), persatuan (wahdah), dan kesatuan hati (ta’aluf al qulub).

Kelima: Menimbulkan perselisihan, hal ini memberikan peluang kepada syaithan untuk menimbulkan saling cerca dan cela sesama saudara muslim. Juga mengalihkan upaya dan potensi yang terhimpun. Allah berfirman,

“Taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu saling bersengketa, karena akan mengakibatkan kamu gagal dan kehilangan kekuatanmu, dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”(QS. Al Anfal: 46)

Menaati Allah dan Rasul-Nya akan timbul istiqomah, persatuan dan kemenangan. Sebaliknya menaati syaithan menyebabkan perpecahan dan kegagalan. Jamaah adalah perhimpunan (tajammu’), persatuan (wahdah), dan kesatuan hati (ta’aluf al qulub). Setiap anggota jamaah hendaknya menjaga dan melindungi persatuan shaf. Menghindari setiap kata atau tindakan yang dapat menimbulkan perpecahan dan pertikaian. Ghibah (menggunjing), mengadu domba (namimah), desas desus, gosip dan semua larangan dalam masalah ini harus dihindari. Kewaspadaan penting!

Keenam: Keluar dari Jamaah, memisahkan diri dan keluar… atau melanggar kesepakatan jamaah karena nafsu pribadi. Sebenarnya, memisahkan diri dari jamaah hanya akan merugikan diri sendiri. Bagi jamah beruntung, bersihnya dari orang yang berwatak pemecah dan tidak memelihara persatuan. Dengan pertolongan Allah, jamaah akan tetap berjalan baik, dengan atau tanpa kita.

“Kalau Anda tidak bersama dakwah maka Anda tidak akan bersama dengan selainnya, Sedangkan dakwah kalaupun tidak dengan Anda, ia akan bersama dengan selain Anda, Jika Anda berpaling maka Allah pasti menggantimu dengan generasi baru yang tidak sepertimu.”

Sumber: Fiqh Dakwah Jil. 1, Syaikh Musthafa Masyhur. Al I’tishom.
 

[ skiftuns ]

Urgensi dan Aplikasi Ta’liful Qulub dalam Dakwah

Islam dibangun di atas pondasi aqidah yang kuat, dengan struktur bangunan jamaah yang solid dengan perekat ukhuwa. Ukhuwah dirajut dengan ta’liful qulub diantara kader dakwah, ikatan hati mengawali ikatan perasaan, pemikiran kemudian ikatan pada tanzhim dan kerja.

Runtutan diatas menunjukkan bahwa ta’liful qulub adalah awal dalam membangun jamaah dan memelihara ulfatul qulub merupakan penjagaan terhadap keutuhan dan kesolidan jamaah, hal ini sangat tampak pada ayat tentang ukhuwah berikut,

“Barangsiapa yang berpegang teguh kepada Allah sungguh ditunjukkan ke jalan yang lurus. Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar  taqwa dan janganlah kalian mati kecuali kalian dalam keadaan menyerahkan diri. Dan berpegang teguhlah dengan tali Allah semuanya, dan janganlah kalian berpecah belah, dan ingatlah nikmat Allah atas kalian ketika kalian bermusuhan maka Allah menyatukan hati kalian, jadilah kalian dengan nikmat Allah bersaudara…” (QS. Ali Imran : 101-103)

Lanjut membaca

Bina Diri Secara Mandiri

Pembinaan diri pribadi (Tarbiyah Dzatiyah) adalah pembinaan (tarbiyah) yang dilakukan seorang muslim/muslimah terhadap dirinya secara mandiri. Latar belakang yang menjadikan pentingnya pembinaan pribadi ini adalah kenyataan bahwa tak selamanya seorang muslim berkesempatan belajar pada seorang alim atau ustadz, bahkan terkadang ada suatu saat dimana seorang muslim berada pada lingkungan yang buruk.

…untuk menjalankan pembinaan pribadi ini,diperlukan kesungguhan. Tidak  ada alasan bagi seseorang untuk menjadi buruk karena tidak memiliki guru…

Lanjut membaca